
LPM Al-Itqan – Di tengah derasnya arus informasi yang mengalir tanpa jeda, manusia modern sering kali kehilangan ruang hening untuk bercermin dan menata batinnya. Telepon genggam menjadi alaram pertama yang menyapa pagi, dan notifikasi media sosial kerap menggeser dzikir sebagai pengingat hati. Padahal, islam telah lama mengajarkan bahwa ketenangan tidak lahir dari kecepatan informasi, melainkan dari kedekatan kepada Sang Pencipta. Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur’an surah Ar-Ra’d ayat 28 yang artinya:
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ ٢٨
(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.
Ayat ini seakan-akan jadi penawar bagi jiwa-jiwa yang lelah sekaligus kompas agar kita tidak tersesat di hutan digital yang semakin padat. Era digital sejatinya bukan ancaman, melainkan wadah yang dapat membawa keberkahan jika digunakan menjadi “penjelajah cerdas” di dunia maya, memilah sebelum menyerap, menahan diri sebelum menyebar. Kebiasaan sederhana seperti mengatur batas konsumsi konten, menjaga adab bersosialisasi daring, serta menyempatkan sepuluh menit sehari membaca Al-Qur’an dapat menjadi charger ruhani yang membuat hati tetap hidup. Dibalik layar kaca yang menyala, ada kesempatan untuk memperluas ilmu, menebar kebaikan, dan memperkokoh keimanan, asal kita tidak hanyut dalam sorotan yang semu.
Ikhlas adalah permata yang semakin sulit dipertahankan di era pencitraan. Dunia digital sering memancing manusia untuk menampilkan yang paling indah, bukan yang paling benar. Dari sinilah nilai ikhlas diuji. Rasullah SAW mengingatkan bahwa setiap amal tergantung pada niatnya. Maka, apapun yang kita lakukan, baik belajar, bekerja, berkarya, atau berbagi akan menjadi cahaya jika diniatkan untuk meraih ridho Allah SWT. Keikhlasan menghadirkan keteduhan batin, menjauhkan manusia dari haus validasi, dan menghindarkan kita dari perilaku yang hanya mengejar pujian orang lain tanpa makna yang sebernanya.
Kisah Umar Bin Khatab memberikan pelajaran penting tentang keseimbangan hidup. Suatu hari, umar melihat seorang pemuda yang setiap hari hanya berada di mesjid untuk beribadah, tanpa bekerja atau berusaha. Ketika ditanya, pemuda itu menjawab bahwa ia tidak bekerja karena ingin fokus beribadah, sementara keluarganya yang menanggung semua kebutuhannya. Mendengar itu, umar menegurnya dengan tegas. Umar menjelaskan bahwa ibadah yang benar bukan hanya dilakukan dimesjid, tetapi juga melalui kerja keras, tanggung jawab, dan usaha yang dilakukan dengan niat yang baik.
Pesan dari kisah ini sangat relevan untuk kehidupan kita hari ini. Seorang muslim tidak diminta untuk memilih antara ibadah dan pekerjaan, tetapi justru dituntut untuk menjalankan keduanya secara seimbang. Ibadah menjaga hati, sedangkan pekerjaan menjaga hidup. Era digital justru membuka banyak jalan untuk berkarya, membantu sesama, dan beribadah sekaligus. Dengan keseimbangan seperti inilah sorang muslim mampu berjalan tegak ditengah perubahan zaman, tetap terhubung dengan dunia, tetapi hatinya tetap terpaut kepada Allah.
Penulis: Dita Hasan Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Bukittinggi
![]()

