
LPM Al-Itqan – Pertanyaan “Untuk apa kita hidup di dunia ini?” bukan hanya pertanyaan religious, tetapi pertanyaan eksistensial yang selalu hadir dalam diri manusia. Setiap orang pernah bertanya, baik secara sadar maupun tidak tentang apa sebenarnya tujuan hidup ini? Apakah kita sekedar menjalani rutinitas, atau ada makna yang lebih besar? Jawaban terhadap pertanyaan ini menjadi kunci cara kita mengambil keputusan, menata langkah, dan menentukan arah hidup. Dari perspektif spiritual, hidup manusia bukan sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Dalam ajaran Islam, manusia diciptakan dengan tujuan utama untuk beribadah kepada Allah, sebagaimana yang terkandung dalam QS. Adz-Dzariyat:56. Namun pengertian ibadah tidak terbatas pada ritual formal. Ibadah mencakup seluruh tindakan yang dilakukan dengan niat tulus dan memberi manfaat kepada orang lain. Artinya, segala hal yang kita lakukan seperti belajar, bekerja, membantu, bahkan tersenyum dapat menjadi bagian dari tujuan hidup jika dilakukan atas dasar kebaikan dan keikhlasan.
Makna ini sejalan dengan teori nilai (value teori) dalam filsafat yang menyebutkan bahwa hidup memperoleh tujuan ketika seseorang memberi nilai pada tindakannya. Jika seseorang memberi makna spiritual pada setiap perbuatannya, maka hidupnya menjadi lebih terarah. Sebaliknya, ketika hidup hanya diisi dengan pengejaran materi, jabatan, dan popularitas maka kekosongan batin sering muncul karna nilai-nilai yang dikejar bersifat sementara. Dalam filsafat eksistensialisme, Viktor Frankl menjelaskan melalui Logotherapy bahwa manusia hanya bisa hidup secara utuh jika ia menemukan meaning of life (makna yang membuat seseorang merasa hidupnya berharga). Frankl mengemukakan tiga cara utama menemukan makna hidup yaitu melalui karya, pengalaman hidup, dan sikap terhadap penderitaan. Pemikiran ini sangat relevan dimana hidup menjadi berarti ketika kita berkarya secara positif, menjalani hubungan yang bermakna, dan tetap tegar ditengah ujian yang menimpa. Pandangan ini sesuai dengan ajaran Islam yang memandang hidup sebagai ujian, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Mulk: 2 bahwa manusia diuji untuk melihat siapa yang paling baik amalnya.
Dari sudut psikologi, manusia cenderung mencari tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan mental. Teori Motivasi Humanistik Abraham Maslow menempatkan self-actualization sebagai kebutuhan tertinggi manusia. Seseorang baru dapat merasa hidupnya lengkap jika ia mencapai makna paling dalam tentang dirinya yaitu tentang siapa dirinya, untuk apa ia hidup, dan bagaimana ia memberi manfaat. Ketika seseorang memahami bahwa hidupnya memiliki tujuan yang lebih besar daripada sekedar memenuhi kebutuhan dasar, maka ia akan merasa lebih bahagia, lebih terarah, dan lebih damai. Dalam jurnal McGrath yang mengulas teori kualitas hidup, disebut bahwa self-actualization adalah bagian dari psikologi eksistensial yaitu proses bertanggung jawab atas hidup sendiri.
Melihat berbagai teori tersebut, semakin jelas bahwa hidup bukan tentang seberapa banyak kita memiliki, tetapi tentang seberapa bermakna apa yang kita lakukan. Manusia hidup untuk memberi manfaat, memperbaiki diri, dan menaburkan kebaikan. Kita tidak bisa menghindari ujian, tetapi kita bisa memilih bagaimana bersikap. Dan dari sikap itulah makna hidup lahir. Secara pribadi, saya melihat bahwa tujuan hidup setiap orang bersifat unik, tetapi dasarnya sama sama yaitu menjadi bermanfaat, menjadi lebih baik, dan mendekatkan diri kepada Allah. Hidup menjadi berharga ketika kita menjalankannya dengan niat yang benar, hati yang tulus, dan tindakan yang membawa kebaikan bagi diri sendiri dan orang lain. Pada akhirnya, hidup adalah perjalanan singkat yang harus dijalani dengan penuh kesadaran bahwa setiap langkah mempunyai makna. Menurut saya, hidup ini bukan tentang menjadi sempurna atau selalu bahagia.
Hidup adalah perjalanan yang membuat kita bertumbuh. Kadang kita tertawa, kadang kita menangis, kadang kita gagal, kadang kita merasa jatuh begitu keras sampai sulit bangkit. Namun dari semua itu ada satu hal yang selalu terasa jelas seperti manusia butuh tujuan, butuh alasan untuk membuka mata setiap pagi, dan butuh hal yang membuat kita terus bertahan, seperti pergi ketempat-tempat favorit, makan makanan kesukaan dan lainnya. Pada akhirnya, hidup adalah perjalanan untuk menjadi manusia yang lebih baik setiap hari. Bukan untuk menjadi sempurna, tetapi menjadi lebih sadar, tulus dan penuh makna. Dunia ini mungkin luas dan kadang terasa membingungkan, tetapi ketika kita menjalani hidup dengan niat dan sepenuh hati, pelan-pelan kita menemukan jawaban yang kita cari.
Penulis: Rabiatun Nisa Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Bukittinggi
![]()
