
LPM Al-Itqan – Pagi itu, udara di Jorong Pulai terasa lebih panas dari biasanya. Burung-burung yang biasanya berkicau ramai di dahan pohon terlihat gelisah, seolah merasakan perubahan yang tidak biasa. Di tepi sungai batang hari, seorang remaja bernama Adli berdiri termenung sambil memandangi air sungai yang keruh.
Dulu, sungai itu jernih. Anak-anak sering bermain di pinggirnya, dan warga memanfaatkan airnya untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, beberapa bulan terakhir, sampah mulai menumpuk dan pepohonan di tepi sungai banyak ditebang. Adli merasa sedih melihat lingkungan kampungnya berubah seperti itu.
Saat sedang merenung, datanglah ustadz Agam, tokoh agama yang dihormati warga di kampung tersebut. Beliau menghampiri Adli dengan senyum hangat.
“Apa yang sedang kamu pikirkan, Adli?” tanya Ustadz Agam.
Adli menarik napas panjang. “Ustadz, sungai ini semakin rusak. Pohon-pohon ditebang, sampah dibuang sembarangan. Saya tidak mengerti, mengapa orang-orang tega melakukan ini?”
Ustazd Agam menatap sungai yang keruh itu, lalu berkata lembut, “Adli, Allah memberikan bumi sebagai amanah untuk kita jaga. Kita adalah khalifah, pemelihara alam. Jika manusia merusaknya, berarti kita telah lalai terhadap amanah itu.”
Adli terdiam, menyimak setiap kata Ustadz Agam.
“Lingkungan bukan hanya tempat tinggal,” lanjut sang ustadz, “tetapi juga bagian dari ibadah kita. Menjaga tanaman, hewan, bahkan air sungai seperti ini, adalah bentuk ketaatan kepada Allah.”
Kata-kata itu membuat hati Adli tersentuh. Ia menyadari bahwa tanggung jawab menjaga alam bukan hal kecil, tetapi bagian dari akhlak seorang muslim.
Sore harinya, Adli mengumpulkan teman-temannya. Ia menceritakan pesan Ustazd Agam dan mengajak mereka untuk ikut membersihkan sungai. Meskipun awalnya hanya beberapa anak yang bergabung, semangat Adli menular dengan cepat.
Keesokan harinya, warga kampung pun mulai memperhatikan aktivitas mereka. Anak-anak membawa kantong sampah, para ibu menanam kembali bibit pohon di pinggir sungai, dan para ayah membuat papan sederhana bertuliskan: “Sungai Bersih, Amanah Kita Bersama.”
Melihat semangat itu, pemerintah desa dan sekolah ikut turun tangan. Mereka menyediakan fasilitas pembuangan sampah, mengadakan penyuluhan lingkungan, dan membuat program penghijauan. Jorong pulai pun perlahan berubah. Sungai yang keruh mulai kembali jernih, dan suara burung terdengar lebih ramai.
Suatu pagi, Adli kembali berdiri di tepi sungai, kali ini dengan senyum bangga. Ustadz Agam datang menghampirinya.
“Bagaimana sungainya, Adli?” tanya beliau.
“Alhamdulillah, Ustadz,” jawab Adli riang. “Ternyata menjaga amanah Allah harus dilakukan bersama-sama.”
Ustadz Agam pun mengangguk. “Benar, Adli. Ketika manusia peduli, bumi akan kembali memberi keberkahan. Ingatlah, menjaga lingkungan bukan hanya membuat hidup kita sehat, tetapi juga bukti bahwa kita taat kepada Sang Pencipta.”
Adli memandang air sungai yang mengalir jernih. Di dalam hatinya tumbuh keyakinan bahwa masa depan yang baik akan lahir dari kepedulian yang sederhana, dilakukan dengan konsisten dan penuh keikhlasan.
Dan sejak hari itu, Jorong Pulai dikenal sebagai kampung yang damai, hijau, dan penuh keberkahan berkat amanah yang dijaga oleh semua warganya.
Penulis: Nurhadini, Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Bukittinggi
![]()
