Taman Kecil, Hati yang Besar

LPM Al-Itqan – Setiap pulang sekolah, Nara selalu melewati taman kecil dekat rumahnya. Ia jarang tersenyum sejak orang tuanya bercerai. Hidup baginya penuh kekesalan dan rasa tidak adil.
Suatu sore ia melihat pak Anwar penjaga taman sedang menyapu daun-daun kering. Angin bertiup membuat daun yang sudah ia kumpulkan kembali berserakan.


“Percuma, Kek,” ujar Nara datar. “Besok kotor lagi.”
Pak Anwar tersenyum. “Kebaikan itu memang tidak selalu terlihat hasilnya, Nak. Tapi Allah melihat usaha kita. Itulah akhlak berbuat baik meski kecil, meski diulang, meski tidak dipuji.”
Kata-kata itu membuat Nara terdiam. Tapi ia pergi tanpa membalas.
Hari-hari berikutnya, ia terus memperhatikan Pak Anwar. Ia melihat bagaimana kakek itu menegur anak-anak dengan lembut, memungut sampah sambil berzikir pelan dan selalu tersenyum saat bekerja.

Suatu sore ketika nilai ulangannya buruk dan hatinya kacau, Nara duduk sendirian di taman. Pak Anwar mendekat dan berkata “Kalau hati gelisah dekatlah pada Allah. Jagalah akhlak, karena akhlak yang baik akan menenangkan jiwa.”
Untuk pertama kalinya, Nara mendengar nasihat itu dengan sungguh-sungguh.
Beberapa hari kemudian, Nara menemukan Pak Anwar terjatuh di dekat bangku. Ia menolongnya duduk.
“Kek, biar Nara yang menyapu.”
Ia menyapu taman perlahan angin kembali menjatuhkan daun baru, namun kali ini Nara hanya tersenyum.
“Benar kata Kakek… kebaikan itu memang harus diulang terus.”
Pak Anwar mengangguk.

“Begitulah dakwah akhlak, Nak. Tidak perlu ceramah panjang. Cukup dengan contoh kecil yang dilakukan terus-menerus.”
Sejak hari itu, Nara mulai berubah. Ia menyapa ibunya, meminta maaf ketika salah, menahan amarah, dan mulai rajin shalat kembali. Langkah kecil yang ia lakukan demi memperbaiki diri.
Taman itu tetap sama, tetapi hati Nara tidak lagi gelap. Ia mengerti bahwa dakwah bukan hanya kata-kata, tetapi perbuatan baik yang menuntun hati menuju Allah.
Taman itu tetap sama, tetapi hati Nara tidak lagi gelap. Ia mengerti bahwa dakwah bukan hanya kata-kata, tetapi perbuatan baik yang menuntun hati menuju Allah.
Kini setiap pulang sekolah, ia bukan hanya melewati taman itu, ia singgah, membantu sebentar, atau sekadar menyapa pak Anwar dengan senyum yang dulu jarang muncul.
Sesekali, ia melihat anak-anak kecil membuang sampah sembarangan. Dengan lembut, ia menegur mereka, meniru cara pak Anwar memberi nasihat tanpa membuat orang lain merasa disalahkan.
Pak Anwar memandangnya dengan mata berbinar. “Nara sudah tumbuh menjadi cahaya kecil di taman ini,” ujarnya.

Dan Nara pun sadar, bahwa kebaikan yang paling sederhana bisa menjadi jejak kecil yang menerangi sesama. Nara menunduk malu, tetapi hatinya hangat. Ia mulai menyadari bahwa perubahan tak harus besar; cukup dimulai dari satu niat baik yang dijaga setiap hari.
Di tengah semilir angin sore, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk terus melangkah, meski perlahan. Karena ia tahu, setiap kebaikan yang ia lakukan, betapa pun kecil akan kembali menumbuhkan ketenangan dalam hatinya.

Penulis: Lidya Maulidya Syukrya, Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Bukittinggi

Loading

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *