Hai, Apakah di Kehidupan Selanjutnya Akan Bertemu?

LPM Al-Itqan – “Dia tampan dan pintar, sesuai dengan tipe ku” ucap seorang Gladis yang saat itu sedang termenung dibangku taman kampus sore itu. Di bangku itu, ia hanya bisa melihat seseorang dari kejauhan, tanpa harus terlalu dekat, tanpa harus menyapa, dan tanpa perlu orang itu ketahui.
Seseorang itu adalah Zidan.
Sejak tahun pertama kuliah, perasaanya tumbuh pelan-pelan, tanpa suara, seperti embun pagi yang tiba-tiba saja ada. Ia bahkan tidak pernah berani mengungkapkan apapun. Baginya, hanya cukup melihat Zidan berjalan sambil membawa buku atau hanya mendengar tawa kecilnya dari jauh saja sudah cukup membuat hatinya hangat.
Ia mencintai dalam diam. Dalam diam yang terkadang membuatnya menenangkan… dan sering kali membuatnya menyakitkan.

Dan hari itu, dunia Gladis itu runtuh pelan-pelan ketika ia mendengar sebuah kabar dari temannya sekelasnya.
Zidan… sudah punya seseorang. Ternyata bukan hanya sekedar suka. Gladis jatuh cinta. Benar-benar cinta.

Dan parahnya lagi perempuan itu bukan Gladis.
Mendengar kabar itu langsung membuat langkah Gladis gemetar ketika ia menuju taman kampus sore itu. Rasanya seperti perasaan yang selama ini ia rawat diam-diam dicabut dengan halus, tetapi sakitnya seperti dicabut paksa.

Sore itu, Gladis tetap duduk di bangku yang sama.
Tetap menunggu Zidan lewat seperti biasanya.
Walau kali ini, dadanya terasa penuh sekali.
Dan benar saja, Zidan muncul. Tapi ia tak sendiri, ia menggenggam tangan seorang gadis yang rupanya adalah kekasihnya.
Dan untuk pertama kalinya, Gladis melihat bagaimana senyum Zidan yang sesungguhnya, tapi yang menyakitkan, senyuman itu bukan untuknya tetapi untuk gadis yang berada di samping Zidan.

Gladis dengan cepat menunduk, takut tatapannya bertemu. Ia tak siap menerima kenyataan yang selama ini ia hindari. Tapi takdir seolah mempermainkannya.
“Loh Gladis? Sendirian lagi?” saat Zidan memanggilnya
Gladis tetap memaksakan senyumnya. Dan hanya menjawab “Iya, cuma lagi cari udara.”

Gadis yang di samping Zidan menggenggam lengan Zidan dengan manja, dan Gladis melihatnya. Rasanya hatinya seperti ditarik pelan-pelan hingga hampir outus.

“Kami mau makan dulu ya,” kata Zidan. “Sampai ketemu lagi, Gladis”

“Sampai ketemu lagi” kalimat sederhana tetapi menusuk seperti pisau tipis.
Gladis hanya bisa mengangguk sembari menahan tangis. Setelah Zidan dan kekasihnya pergi barulah Gladis menumpahkan air matanya. Diam-diam. Senyap. Dan tidak ada yang melihat.
Dan di tengah tangis yang ia tahan dengan suara, sebuah pertanyaan muncul di dasar hatinya:
“Sayang… kalau bukan di dunia ini, apakah di kehidupan selanjutnya kita bisa bertemu?”
Gladis menatap langit sore, langit yang sama seperti ketika ia pertama kali menyadari adanya perasaan itu.
Lalu, ia teringat dengan nasihat yang pernah ia dengar di kajian kampusnya beberapa waktu lalu.

“Allah mempertemukan bukan untuk selalu menyatukan. Kadang hanya untuk mengajarkan, bahwa cinta yang paling benar adalah cinta yang membuatmu semakin dekat kepada-Nya.”
Mencintai seseorang bukan selalu tentang memiliki. Kadang, itu hanya tentang memberi tempat bagi mereka, meski hatimu sendiri tidak punya ruang untuk beristirahat.
Tapi ia belajar melepaskan perlaham karena mencintai dalam diam mengajarinya satu hal,
Jika bukan di sini, jika bukan sekarang… mungkin nanti, mungkin di kehidupan lain, takdir akan mempertemukan dua hati yang tidak pernah berjodoh di dunia ini.

Penulis: Siti Hafifa Rahmi, Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Bukittinggi

Loading

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *