Saat Nilai Hanya Jadi Angka: Krisis Kualitas pada Mahasiswa

Sumber foto: AI

LPM Al-Itqan – Banyak dari sebagian kita keliru dalam memahami arti dan makna dari sebuah nilai. Dalam tulisan ini, saya mencoba menarik ke belakang, untuk mengkaji kembali tentang arti dan makna sebuah nilai bagi mahasiswa di dalam kehidupan sehari-hari. Berangkat dari defenisinya, jadi, apa itu nilai? Apakah sebuah angka yang terpajang di selembaran kertas pada ijazah seseorang atau kualitas yang ada pada diri seseorang pada bidang ilmu yang dituntutnya dengan cara disiplin?

Dikutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), nilai memiliki beberapa arti antara lain: harga, angka kepandaian, banyak sedikitnya kadar/mutu, sifat-sifat yang penting atau berguna bagi kemanusiaan, dan sesuatu yang menyempurnakan manusia sesuai dengan hakikatnya. Artinya, nilai tidak pernah tunggal dan tidak sesederhana angka. Nilai memiliki dimensi moral, kualitas, dan kemanusiaan.

Dalam buku Agustinus W. Dewantara yang berjudul Filsafat Moral. Pada bab V membahas tentang Filsafat Nilai. Di dalam buku itu dikatakan bahwa nilai adalah sesuatu mendesakkan eksekusi suatu tindakan. Kalau saya simpulkan manusia selalu digerakkan oleh nilai yang diyakininya. Jadi perbuatan manusia itu menentukan nilainya. Oleh karena itu, nilai selalu terkait dengan moral dan etika, ia menentukan apakah tindakan yang dilakukan sudah benar atau salah.

Sementara itu, dalam bukunya Max Sheler yang berjudul Formalism in Ethics and Non-Formal Ethics of Values: A New Attempt Toward the Foundation of An Ethical Personalism. Ia melihat nilai itu sebagai kualitas objektif yang memberikan keberhagaan pada sesuatu. Urutan nilai menurut Max Scheler, yang paling rendah adalah nilai kesenangan yaitu yang berhubungan dengan kenikmatan dan penderitaan. Lalu tingkatan selanjutnya ialah nilai vitalitas yang berkaitan dengan kehidupan, kesehatan, penyakit, dan kelangsungan hidup. Jika seandainya kita terjebak pada tingkatan nilai kesenangan, maka kita hanya bergerak demi hal-hal yang bersifat instan, dangkal, dan sementara.

Ketika konsep ini saya bawakan ke ranah akademik, terkhususnya di UIN Sjech M.Djamil Djambek Bukittinggi, terlihat jelas bahwa banyak mahasiswa terjebak atau bahkan berhenti pada tingkatan nilai paling rendah tadi, nilai sebagai kesenangan semata. Banyak yang merasa cukup hanya dengan mendapatkan angka tinggi. Sehingga mereka lupa bahwa nilai seharusnya menjadi tolak ukur kualitas, bukan sekedar legitimasi akademik.

Ini adalah beberapa gejala yang tampak jelas, diantaranya:
Pertama, hadir di dalam kelas tapi menjadi pasif. Banyak mahasiswa datang ke kelas hanya untuk memenuhi absensi semata. Mereka hadir di dalam kelas, tetapi tidak hadir scara intelektual. Diskusi sering berjalan dengan datar begitu saja tanpa kritik, tanpa uji argumen dan tanpa dialektika, satu sama lain.

Kedua, budaya joki tugas. Tugas dikumpulkan, tetapi bukan hasil pemikiran dan kerja keras sendiri. Tujuannya sederhana, yaitu mengejar nilai angka yang tinggi, bukan untuk memahami materi. Ini bukan sekedar ketidakjujuran akademik, tetapi juga kemunduran kualitas moral.

Ketiga, bertanya menggunakan AI tanpa memahami konteks. Sering pertanyaan yang diajukan didalam diskusi berasal dari pencarian cepat, bukan buah hasil dari perenungan. Jawaban pun terkadang susah rasanya untuk dicerna atau dipahami, sehingga diskusi menjadi kering tanpa adanya dialektika. AI digunakan bukan untuk memperkaya pemahaman, tetapi untuk menutupi kemalasan untuk berpikir.

Keempat, minim penguasaan nilai dasar yang dipelajari. Contoh seperti mahasiswa ekonomi yang bahkan tidak mengetahui siapa bapak ekonomi pertama di Indonesia. Pernyataan ini bukan asumsi belaka, bisa dibuktikan. Silahkan di observasi ke lapangan, tanya satu per satu mahasiswa Fakultas Ekonomi Bisnis Islam (FEBI). Dan ini baru persoalan tentang sejarah, belum lagi teori-teorinya. Jadi, ini bukan sekedar kekurangan pengetahuan, tetapi tanda bahwa proses belajar tidak benar-benar terjadi.

Semua fenomena ini menunjukkan bahwa sebagaian mahasiswa hanya mengejar nilai sebagai angka. Mereka puas dengan capaian yang tercetak di dalam kertas KHS, bukan kualitas yang melekat pada diri. Padahal nilai sejatinya bukan tentang seberapa tinggi angka kita, tetapi tentang sejauh apa pengetahuan itu memberi dampak bagi diri, keluarga, masyarakat dan masa depan. Saya tidak sepenuhnya menyalahkan mahasiswa, saya juga melihat bahwa sistem pendidikan juga menjadi hal yang fundamental dalam masalah ini. Saya rasa yang membuat keadaan mahasiswa seperti ini adalah hasil dari rahim-rahim sistem pendidikan atau kurikulum saat ini.

Jadi, menurut saya nilai yang bermanfaat adalah ketika diimplementasikan dalam kehidupan dan mempunyai manfaat atau dampak positif. Maka inilah yang dikatakan dengan sebuah value atau nilai tadi. Bukan sebuah angka yang terpajang dalam selembar helai kertas itu tadi. Yang suatu saat akan dibawa-bawa kesana, kesitu untuk melamar sebuah pekerjaan. Ketika mahasiswa lebih sibuk mengejar angka daripada kualitas, mereka sebenarnya sedang merendahkan diri sendiri dan menurunkan martabat pendidikan.

Untuk apa nilai tinggi jika tidak berdampak? Untuk apa indeks prestasi jika tidak ada kualitas? Untuk apa gelar jika tidak mampu memberi manfaat?

Tujuan tulisan ini ialah merefleksi kembali apa yang telah selama kita yakini tentang arti makna dari sebuah nilai dan apa yang telah dibuat oleh kita saat ini. Oleh karena itu mari sama-sama kita merefleksi kembali akan arti dan makna dari sebuah nilai itu. Kita tumbuhkan lagi nilai-nilai yang berbudi leluhur, dan berdampak positif untuk kelangsungan hidup, untuk masa depan baik di dunia maupun di ahkirat.

Tulisan ini murni lahir dari kegelisahan dan opini saya pribadi sebagai sesama mahasiswa. Tentu saja, apa yang saya tulis ini jauh dari kata sempurna. Jika ada kawan-kawan yang punya pandangan lain yang lebih bijak, tentu itu sangat baik karena berarti kita semakin dekat dengan kebenaran. Namun, bagi yang merasa berbeda pendapat, mari kita berdiskusi. Pintu kritik dan saran selalu terbuka, karena lewat tulisan dan diskusi yang sehatlah kita bisa tumbuh bersama.

Penulis: M Zidan Pratama

Loading

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *