
LPM Al-Itqan – Amira merapikan kerudung segi empatnya. Ia mematut diri di cermin kafe aesthetic langganannya, memastikan lighting di sudut itu sempurna untuk selfie nanti. Di meja, laptopnya terbuka, menampilkan lembar kerja kosong, berfungsi lebih sebagai properti daripada alat bantu belajar.
“Hai, Amira!” sapa Rania, masuk dengan tas bermerek yang jelas lebih mahal daripada biaya kuliah Amira sebulan. Ia langsung duduk, mengeluarkan ponsel, dan segera memotret iced latte dengan hiasan seni busa yang baru datang.
“Caption yang bagus apa ya? Struggles of a busy student?” gumam Rania, sibuk memilih filter.
Amira tersenyum simpul. “Gaya hidupmu itu, Ran, bukan struggle. Itu lifestyle. Lagipula, kita bukan busy student. Kita ini ‘seniman’ nongkrong.”
Mereka berdua tertawa, tawa yang sedikit hampa.
Mereka adalah mahasiswi semester akhir, seharusnya sibuk di perpustakaan atau laboratorium, berdebat tentang skripsi. Namun, kenyataanya bagi mereka jadwal kuliah hanya sekadar formalitas, sementara jadwal nongkrong menjadi keharusan.
“Dosen Aqidah tadi pagi ceramah lagi, katanya ‘adab di atas ilmu’,” ujar Rania, sambil menggeser-geser foto. “Aku hampir ketiduran. Padahal aku hanya telat lima menit, tapi beliau ceramah seolah aku melakukan dosa besar.”
Amira menyeruput kopinya. “Wajar, Ran. Bagi dosen, etika itu segalanya. Mereka dibesarkan di era di mana menatap mata dosen saat berbicara adalah tanda hormat. Kita? Kita menatap mata dosen hanya untuk melihat apakah dia follow back Instagram kita.”
Mereka terdiam sejenak. Namun, keheningan itu bukan disebabkan oleh renungan mendalam, melainkan karena mereka sedang membalas story Instagram masing-masing.
“Aku lupa, tadi di kelas bahas apa ya?” tanya Rania tiba-tiba, menunjuk buku catatannya yang nyaris kosong.
“Entahlah. Seingatku, dosen membahas tentang pentingnya referensi primer dalam penelitian. Tapi aku lebih fokus memikirkan mengapa meja di kafe ini lebih nyaman daripada kursi di perpus,” jawab Amira jujur.
Pengetahuan dan Adab yang Memudar
Dulu, kampus adalah kubu ilmu, tempat di mana mahasiswa berlomba-lomba untuk meraih wawasan. Sekarang, bagi sebagian besar, kampus hanyalah platform sosial untuk menunjukkan pencapaian gaya hidup.
Bagi mereka, nilai tertinggi di kampus bukanlah IPK, melainkan IPH (Indeks Popularitas Hedon); pakaian branded sebagai bukti status, kafe mewah sebagai latar belakang wajib untuk feeds, mengeluh sibuk meskipun sibuknya hanya memikirkan mix and match busana.
Amira dan Rania sadar, mereka terperangkap. Adab kesantunan terhadap dosen seringkali terlupakan, digantikan oleh mentalitas ‘pelanggan’ yang merasa sudah membayar biaya kuliah. Diskusi substansial tentang keilmuan digantikan oleh obrolan dangkal tentang drama terbaru.
Tiba-tiba, seorang mahasiswi senior bernama Dini, yang dikenal sangat idealis, menghampiri meja mereka. Ia membawa beberapa buku tebal dan map lusuh.
“Kalian di sini lagi?” tanya Dini, nadanya terdengar letih. “Tugas akhirku mentok. Aku butuh referensi dari jurnal terbitan luar negeri. Kalian ada yang punya akses ke sana?”
Amira dan Rania saling pandang. Mereka hanya punya akses ke internet cepat untuk streaming film, bukan jurnal ilmiah.
“Wah, maaf nih kak. Kita lagi break dulu otak sudah panas,” elak Amira, sambil menggeser piring waffle manisnya.
Dini menghela napas. “Pantas saja. Aku lihat kalian selalu di kafe, tapi tidak pernah terlihat di ruang diskusi. Ilmu itu, bukan cuma di buku. Ia juga di dalam diskusi yang serius, di perpustakaan yang dingin, dan di adab menghormati proses belajar.”
Dini tersenyum maklum, namun matanya memancarkan kekecewaan. “Hidup itu seperti secangkir kopi, dek. Kalau kamu hanya sibuk memotret busanya, kamu tidak akan pernah merasakan pahit dan nikmatnya ampas di dasarnya.”
Dini kemudian pergi, meninggalkan keheningan yang kali ini terasa sangat berat.
Amira menatap Rania, lalu ke laptopnya yang kosong. Kafe yang tadinya aesthetic tiba-tiba terasa sempit dan dingin. Di luar, senja mulai meredup, sama seperti semangat mereka meraih ilmu yang perlahan pudar digantikan oleh gemerlap lampu kafe.
Mereka adalah generasi yang memiliki segala kemudahan akses pengetahuan, namun memilih untuk menjadi budak dari gaya hidup tanpa tujuan.
Penulis: Khaira Fitria
![]()
