Menyinari Hidup dengan Akhlak Nabi: Meneladani Shiddiq, Amanah, Tabligh, Fathanah di Era Digital

Sumber foto: https://masjidismuhuyahya.com/meneladani-akhlak-nabi-muhammad-saw/

LPM Al-Itqan – Setiap umat Muslim tentu meyakini, bahwa sosok Nabi Muhammad SAW merupakan figur teladan yang menghadirkan contoh bagaimana menjalani hidup, bukan hanya dari segi ibadah saja, melainkan juga dari empat sifat utama yang menjadi fondasi karakter Rasulullah: Shiddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathanah. Empat sifat ini tidak hanya menggambarkan karakter Rasulullah pada masa lalu, tetapi juga relevan untuk membangun etika dan moral umat Islam di era modern ini.

Allah SWT telah berfirman untuk mengingatkan kita bahwa keteladanan Rasulullah merupakan rujukan sepanjang zaman :


لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ ۝٢١

Artinya: Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah. (QS. Al- Ahzab:21)

Nabi Muhammad sendiri juga telah menyampaikan dari tujuan besar diutusnya:

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (HR. Bukhari)

Kedua dalil ini menegaskan bahwa keteladanan Rasulullah ini harus kita aplikasikan pada kehidupan nyata, bukan sekedar menghafalnya saja.

1. Shiddiq

Shiddiq berarti jujur, baik itu jujur dalam ucapan, tindakan dan apa yang kita yakini. Pada diri Rasulullah, jujur bukan sekedar prinsip tetapi sifat yang melekat sejak beliau muda sehingga kaum Quraisy memanggil beliau dengan sebutan Al-Amin yang berarti orang yang bisa dipercaya. Tentu saja sebutan itu tidak lahir begitu saja, melainkan berasal dari pengalaman panjang mereka dalam melihat integritas Nabi dalam kehidupan sehari hari.

Contoh yang kuat terlihat pada saat Nabi Muhammad SAW mengumpulkan kaum Quraisy di bukit Shafa pada awal dakwah. Pada saat Rasulullah bertanya tentang kepercayaan kaum Quraisy kepadanya, mereka menjawab: “Tentu, kami tidak pernah sekalipun mendapatimu berdusta. Kami tidak pernah mendapatimu berkata-kata kecuali benar”. Penakuan ini menunjukkan bahwa kejujuran Nabi Muhammad sudah diketahui banyak orang pada saat itu.

Namun di zaman sekarang, ketika informasi bergerak begitu cepat, kejujuran menjadi karakter yang berharga. Meneladani Shiddiq bukan lagi tentang tidak boleh berbohong, tetapi juga berhati-hati dalam berbagi informasi, tidak memanipulasi data di pekerjaan, dan menahan diri dari “memoles” fakta yang ada demi keuntungan pribadi. Kejujuran bisa saja terlihat sederhana, tapi di era digital ini, itu adalah sesuatu yang mahal.

2. Amanah

Amanah berarti menjaga kepercayaan, apapun bentuknya. Amanah bukan sekedar dapat dipercaya, melainkan juga sebuah kemampuan dan usaha untuk menjaga kepercayaan itu. Rasulullah merupakan contoh yang sempurna dalam hal ini. Suatu saat ketika hendak hijrah ke Madinah, beliau tetap meminta Ali r.a untuk mengembalikan barang-barang titipan kaum Quraisy, sekalipun mereka adalah pihak yang memusuhi umat Islam pada saat itu. Tentunya ini bukan hanya sekedar etika, melainkan tentang sebuah kepercayaan yang harus dijaga tanpa syarat.

Di zaman yang semakin maju, amanah tentu saja dapat bersinggungan dengan segala aspek kehidupan, mulai dari pekerjaan, pendidikan, persaudaraan, seperti tidak mengambil keuntungan yang bukan hak kita, disiplin menjalankan tugas hingga menjaga privasi pada telepon di genggaman kita seperti menjaga privasi pesan dan foto orang lain, tidak menyebarkan informasi pribadi, serta tidak mengambil karya orang tanpa izin. Semua itu harus kita laksanakan karena kepercayaan itu susah untuk dikembalikan apabila telah ternodai.

3. Tabligh

Tabligh tidak hanya berarti menyampaikan, tetapi bagaimana kita dapat menyampaikan dengan tepat, jelas dan tidak menyembunyikan faktanya. Rasulullah menjalankan tugas ini dengan kesabaran dan kesungguhan luar biasa, terutama pada masa awal dakwah yang penuh dengan penolakan. Rasulullah juga menyampaikan pesan dakwah dengan lembut dan jelas sehingga pesan lebih mudah diterima.

Pada masa sekarang tentunya sifat tabligh sangat relevan untuk kita teladani, terutama di dunia digital. Mulai dari menyampaikan informasi dengan benar, tidak menambah informasi, tidak menyerang orang lain hingga memastikan pesan yang kita sampaikan mengandung manfaat daripada memenangkan merupakan bagian dari meneladani sifat tabligh di zaman sekarang. Tabligh mengajarkan kepada kita bahwa pesan bukan hanya sekedar disampaikan tetapi juga dipahami dengan baik.

4. Fathanah

Fathanah berarti cerdas, bijaksana dan mampu memahami situasi secara tepat. Salah satu contoh sifat Fathanah pada Nabi terlihat pada peristiwa peletakan batu hajar aswad. Ketika itu Rasulullah berhasil memberi solusi yang adil dan diterima oleh semua pihak

Di zaman sekarang tentunya meneladani sifat ini dapat diartikan dengan menggunakan pengetahuan secara bijak, kritis terhadap informasi yang kita terima, mengambil keputusan dengan pertimbangan yang tepat dan mampu mengelola emosi  dengan baik.

Meneladani Rasulullah berarti menghadirkan akhlak beliau dalam setiap langkah kehidupan kita, baik di dunia nyata maupun di dalam dunia digital. Dengan empat sifat utama ini, diharapkan kita bisa menjadi pribadi yang lebih bijak dan santun di tengah dunia digital yang melaju pesat.

Penulis: Dinny Sausan Dzikra

Loading

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *