
LPM Al-Itqan – Nama itu Alisa.
Gadis berusia dua puluh tahun yang kini duduk di semester lima sebuah perguruan tinggi negeri di kota yang jauh dari rumahnya. Di balik wajahnya yang ceria dan ramah di depan teman-temannya, ada sesuatu yang perlahan hilang dari hidupnya yaitu ketenangan. Ketenangan yang dulu ia jaga baik-baik sejak kecil, terutama sejak duduk di bangku Madrasah Aliyah Negeri.
Dulu, Alisa adalah gadis yang lembut, penuh semangat, dan sangat dekat dengan Allah. Hidupnya seperti diselimuti cahaya. Ia tumbuh dalam lingkungan yang religius, dikelilingi guru-guru yang selalu mengingatkan kebaikan, serta teman-teman yang menjadi saudara seiman. Di madrasahnya, ia rutin menghafal Al-Quran setiap Rabu pagi. Ia bahkan termasuk siswi yang hafalannya tergolong cepat. Dalam satu semester ia mampu menyelesaikan juz tiga puluh, dan ia selalu berdoa agar bisa menambah hafalannya satu juz lagi setiap enam bulan.
Shalatnya selalu terjaga. Azan datang, Alisa bangkit. Tidak ada alasan. Tidak ada berat hati. Shalat baginya bukan kewajiban saja tapi tempat ia menata jiwa.
Dan tahajud… ah, itu ibadah favoritnya.
Setiap malam, sebelum tidur, Alisa menyiapkan alarm. Ia bahkan punya kebiasaan menuliskan niat kecil di kertas yang ia tempel di dinding dekat kasurnya: “Bangun untuk tahajud, mampu karena Allah.” Ia merasa damai setiap kali sujud lama pada dini hari, berdoa untuk masa depannya, keluarganya, dan imannya.
Tapi itu dulu.
Dulu… ketika hidupnya masih berada dalam lingkungan yang tepat.
Begitu ia masuk kuliah, hidup seperti memasuki bab baru yang gelap. Lingkungannya berbeda total. Tidak ada teman tahfizh yang mengajaknya mengulang hafalan. Tidak ada guru yang mengingatkan ibadah. Tidak ada suara lantunan Al-Quran di pagi hari. Yang ada hanya tugas kuliah, deadline, serta suara bising kota yang tak pernah tidur.
Sekarang, Alisa berada di semester lima fase di mana semua mulai terasa menekan dari berbagai sisi. Bukan semester akhir memang, tetapi bayangan skripsi sudah seperti bayangan hitam yang mengikuti ke mana pun ia pergi.
Setiap hari, jadwalnya semakin padat. Tugas yang menumpuk, rapat organisasi yang tidak ada habisnya, kegiatan kampus, kegiatan kelas, acara-acara fakultas, semuanya membuat ia semakin jauh dari dirinya sendiri.
Hingga tanpa sadar, shalat Alisa mulai sering bolong.
Awalnya hanya terlambat.
Lalu tertinggal.
Hingga akhirnya ada hari di mana ia baru ingat shalat isya setelah lewat tengah malam.
Hafalannya yang dulu ia jaga bagaikan harta kini memudar. Ayat-ayat yang dulu mengalir lancar kini terasa asing di lidahnya. Ada rasa perih setiap kali ia menyadari itu rasanya seperti kehilangan bagian dari dirinya.
Yang lebih menyakitkan, Alisa menyadari bahwa ketenangan jiwanya perlahan menghilang.
Ia sering merasa sesak tanpa sebab.
Sering menangis tiba-tiba di kamar kosnya.
Sering merasa hidupnya bising, berantakan, dan kehilangan arah.
Namun setiap kali ia merasa jatuh, ia selalu berjanji pada Allah:
“Ya Allah… mulai besok aku shalat tepat waktu. Mulai besok aku kembali.”
Tapi esoknya, ia mengingkari lagi.
Dan besoknya lagi, begitu terus.
Tentang tahajud, ia bahkan sudah tak ingat kapan terakhir kali ia bangun. Ia selalu berniat setiap malam, “Besok malam aku bangun jam tiga. Besok malam aku ingin merasakan ketenangan itu lagi.” Namun alarm selalu ia matikan, tubuhnya selalu terasa terlalu letih untuk bangun. Rasanya seperti ada tirai tebal yang menutupi hatinya.
Suatu malam, Alisa duduk di meja belajarnya di kos. Tumpukan kertas tugas berserakan. Laptopnya menyala dengan layar penuh file presentasi yang belum selesai ia buat. Rambutnya diikat asal, matanya sembab karena menangis sebelumnya.
“Semuanya kenapa jadi begini…” gumamnya pelan.
Alisa merasa hidupnya kacau.
Ia ingin menjadi Alisa yang dulu yang hafalannya kuat, yang hatinya tenang, yang shalatnya terjaga, yang tidak pernah merasa kosong. Tapi ia sudah terlanjur terseret arus dunia kampus yang melelahkan.
Dalam kekosongan itu, ia membuka TikTok tanpa tujuan. Sekadar ingin mengalihkan pikiran, ingin lari dari segala tekanan.
Namun justru malam itu, FYP-nya terasa berbeda.
Sebuah video ceramah pendek muncul:
“Kalau kau merasa hatimu hampa, itu bukan karena dunia yang tak adil. Itu karena kamu menjauh dari Tuhanmu.”
Alisa tertegun.
Ia scroll.
Muncul lagi video lain:
“Allah memanggilmu lima kali sehari. Kamu kapan mau menjawab?”
Ia menahan napas.
Jantungnya berdetak aneh.
Scroll lagi.
Video ketiga menampilkan seorang ustaz dengan suara lembut:
“Jangan tunggu sempurna untuk kembali kepada Allah. Kembalilah meski kamu terseret-seret.”
Dan video itu membuat Alisa ingin menangis.
Ingin sekali.
Seolah seluruh video itu dikirimkan khusus untuknya.
Ia meletakkan ponsel di meja dan menunduk. Bahunya bergetar. Air matanya menetes satu per satu tanpa dapat ia tahan.
“Ya Allah… kenapa aku jadi sejauh ini?”
“Kenapa aku membiarkan diriku sejauh ini dari-Mu?”
Namun tangis itu tidak menghentikan pergulatan batinnya. Ia kembali tenggelam dalam tugas dan kelelahan. Malam itu ia tertidur di meja, dengan lampu yang masih menyala dan tumpukan tugas yang belum selesai.
Beberapa hari berlalu.
Hidup Alisa masih sama berantakan.
Namun ada sesuatu yang berubah
hampir setiap hari, potongan potongan ceramah singkat selalu muncul di FYP TikTok dan Instagram-nya.
Kadang berupa nasihat.
Kadang berupa ayat.
Kadang hanya suara muazzin mengumandangkan azan.
Namun setiap kali itu muncul, Alisa merasa hatinya disentuh.
Hingga suatu malam, ketika Alisa membuka Instagram untuk mengecek DM tugas kelompok, sebuah video muncul otomatis. Isinya seorang ustazah membacakan ayat:
“Dan Allah lebih dekat kepadamu daripada urat lehermu.”
Video itu hanya 10 detik tapi Alisa terpaku sangat lama.
Hatinya bergetar kuat, seolah ada sesuatu yang menamparnya dari dalam.
Ia rindu.
Rindu luar biasa.
Rindu pada dirinya yang dulu.
Rindu pada ketenangan shalatnya.
Rindu pada sujud panjangnya.
Rindu pada hafalan Al-Quran yang dulu menemaninya setiap malam.
Rindu pada senyum ustazahnya ketika ia berhasil menambah hafalan.
Rindu pada lingkungannya yang dulu menjaga imannya.
Dan untuk pertama kalinya setelah hampir dua tahun, Alisa mengucapkan kalimat yang ia tahan lama
“Aku ingin pulang…”
Malam itu, meski hatinya berat, Alisa bangkit dari kasur.
Ia mengambil mukena dan meletakkannya di kursi.
Ia mengambil wudhu dengan tangan yang dingin karena penuh keraguan.
Setelah itu ia berdiri menghadap kiblat.
Ia memulai shalat magrib yang tertinggal.
Takbirnya lirih, tapi penuh rasa sesal.
Di rakaat kedua, air matanya mengalir tanpa henti. Tidak ada ayat panjang yang ia baca, hanya Al-Ikhlas itu pun terbata. Namun ia teruskan.
Saat sujud terakhir, Alisa merasa sesuatu dalam dirinya pecah. Bukan perih tapi lega. Sujud itu terasa seperti rumah yang lama ia tinggalkan.
“Ya Allah…” suaranya bergetar,
“Aku tersesat. Aku lelah. Aku takut. Tapi aku ingin pulang. Tolong tuntun aku…”
Dan malam itu, Alisa menangis sangat lama dalam sujudnya.
Sejak hari itu, hidupnya tidak berubah menjadi sempurna.
Tidak seperti dalam kisah-kisah hijrah yang instan.
Ia masih kesulitan bangun tahajud.
Ia masih kadang telat shalat.
Ia masih merasa futur.
Ia masih merasa sibuk dan lelah.
Namun ada satu hal besar yang berubah
Hatinya kembali hidup.
Ia mulai merasakan desir iman yang dulu hilang.
Mulai merasakan nikmat shalat yang dulu ia tinggalkan.
Mulai merasakan kerinduan untuk mengulang hafalan.
Alisa mulai menata harinya
Ia mulai memaksa diri untuk shalat tepat waktu, meski dengan susah payah.
Ia mulai membuka Al-Quran meski hanya satu halaman sehari.
Ia mulai membiasakan diri mematikan HP ketika masuk waktu shalat.
Ia mencoba bangun tahajud meski hanya dua rakaat.
Ia gagal berkali-kali.
Ia bangun kesiangan.
Ia jadi malas.
Ia menangis lagi.
Ia terjatuh lagi.
Tapi kali ini, ia tidak menyerah.
Karena ia ingat satu kalimat dari video yang sering muncul di FYP-nya
“Allah tidak menilai seberapa sering kamu jatuh, tetapi seberapa sering kamu bangkit dan kembali kepada-Nya.”
Alisa bangkit setiap kali jatuh.
Ia mencoba lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.
Ia tahu jalannya panjang.
Tapi ia sudah memulai langkah pertamanya.
Dan ia tahu, Allah selalu melihat langkah-langkah kecil itu.
Pada suatu malam, sekitar pukul tiga lewat lima belas menit, Alisa terbangun. Entah karena mimpi, entah karena alarm yang tidak ia ingat. Namun matanya terbuka, dan hatinya langsung teringat tahajud.
Ia menatap atap kamar kosnya.
Hatinya bergetar pelan.
“Ya Allah… apakah ini panggilan-Mu?”
Dengan seluruh tenaga, ia bangkit, mengambil wudhu, dan berdiri menghadap kiblat.
Malam itu, ia menunaikan tahajud pertama setelah sekian lama. Hanya dua rakaat. Hanya beberapa menit. Tapi baginya itu adalah cahaya.
Dan dalam sujud terakhir, Alisa merasakan hal yang belum pernah ia rasakan selama beberapa tahun terakhir ketenangan yang dulu hilang kini kembali mengalir ke dalam dirinya.
Bukan ketenangan karena hidupnya mudah.
Bukan karena tugasnya selesai.
Bukan karena ia sudah kembali menjadi sempurna.
Tapi ketenangan karena ia merasa dekat lagi dengan Tuhannya.
Dan Alisa menangis dalam sujud itu.
Menangis lama.
Menangis rindu.
Menangis haru.
Menangis karena merasa dicintai oleh Allah meski ia pernah jauh.
Pagi itu, Alisa berjalan ke kampus dengan hati yang berbeda. Langkahnya lebih ringan. Wajahnya lebih segar. Senyumnya lebih tulus.
Temannya berkata, “Alisa, kok kamu kelihatan beda ya? Cerah.”
Ia hanya tersenyum.
Karena ia tahu…
Bukan wajahnya yang cerah.
Tapi hatinya.
Hari-hari Alisa terus berjalan. Ia masih berada di semester lima, masih merintis perjalanan panjang menuju semester akhir. Masih banyak tekanan, masih banyak tugas, masih banyak kekhawatiran. Tapi kini ia tahu kemana ia harus kembali setiap kali hatinya goyah.
Dan setiap kali ia merasa ingin menyerah, ia membuka salah satu video ceramah pendek yang ia simpan
“Allah tidak pernah lelah memanggilmu. Yang lelah hanyalah dirimu yang terus menunda untuk kembali.”
Kini, Alisa tidak menunda lagi.
Ia pulang perlahan namun pasti kepada dirinya yang dulu, atau mungkin pada dirinya yang lebih baik dari sebelumnya.
Karena Alisa belajar, lewat notifikasi kecil dari media sosial
Bahwa hidayah bisa datang dari mana saja bahkan dari FYP TikTok.
Yang penting, hatinya mau menerimanya.
Dan itulah awal perjalanan Alisa untuk kembali menemukan cahaya yang pernah hilang.
Penulis: Mulia Rizki Abadi Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam
![]()
