Menjaga Lisan di Tengah Hiruk Pikuk Kehidupan

Sumber foto: https://almuhtada.org/2024/12/14/pentingnya-menjaga-lisan-dalam-kehidupan-sehari-hari/

LPM Al-Itqan – Kota belum sepenuhnya terbangun ketika Aksa melangkah keluar dari rumah. Udara pagi masih menggantung tipis, membawa aroma tanah yang jarang ia hirup di hari-hari biasa. Di kejauhan, suara kendaraan mulai bermunculan pelan, lalu semakin ramai. Hari baru dimulai, dan kehidupan kembali memintanya berlari.

Namun entah mengapa, pagi itu ia merasa berbeda. Ada sesuatu yang membuatnya melambat, seakan hatinya ingin mengatakan bahwa ia harus memperhatikan sesuatu yang selama ini luput dari kesibukannya.

Ia berjalan melewati rumah-rumah yang masih tertutup, sambil mengingat kejadian kemarin, perdebatan kecil di kantor yang seharusnya tak perlu terjadi, kalimat pendek yang terucap karena terburu-buru, lalu wajah rekan kerja yang jelas menunjukkan kekesalan. Aksa tahu ia salah. Dan ia tahu bahwa kesalahan itu muncul dari satu hal lisan yang tak dijaga.

Mengapa manusia bisa begitu sibuk mengejar banyak hal, namun sering lalai menjaga satu hal yang paling dekat dengan dirinya?

Sepanjang perjalanan menuju halte, Aksa mengamati orang-orang di sekitarnya. Ada yang berdebat di telepon, ada yang mengeluh keras tentang macet, ada pula yang memarahi anaknya tanpa sadar bahwa suara mereka terdengar hingga ke trotoar lain. Ia memperhatikan semuanya dengan diam, seperti sedang belajar dari kehidupan yang bergerak begitu cepat.

Saat itu ia teringat sebuah pengajian yang pernah ia ikuti bertahun-tahun lalu. Sang ustadz pernah berkata, “Ucapan manusia adalah cermin hatinya. Jika hati tenang, lisannya pun ikut tenang.”

Aksa tidak terlalu memikirkan maknanya waktu itu. Namun kini, setelah melalui banyak benturan emosi, ia mulai mengerti. Ketergesaan, kemarahan, dan ambisi sering membuat manusia lupa bahwa satu kata saja dapat membekaskan kesan lebih lama daripada seribu langkah yang sudah ia tempuh hari itu.

Bus tiba. Aksa naik dan berdiri dekat jendela. Di luar, ia melihat seorang pedagang kaki lima memindahkan dagangannya sambil ditegur petugas dengan nada tinggi. Ada ketegangan, tetapi tidak ada yang saling mendekatkan hati. Kata-kata yang keluar semuanya seperti batu yang saling dilempar, hanya memperkeras suasana.

Aksa menghela napas panjang. Betapa sering manusia mengira ketegasan hanya bisa muncul dari suara keras, padahal banyak perkara bisa selesai dengan tutur yang lembut.

Di kantor, Aksa sengaja bekerja lebih tenang. Kali ini ia tidak ingin mengulang kesalahan. Ketika seseorang bertanya dengan nada kurang menyenangkan, ia menahan diri beberapa detik sebelum menjawab. Ternyata itu cukup untuk membuat ucapannya lebih terarah, lebih jernih. Aneh, tapi dari jeda itu, ia merasa hidupnya menjadi lebih lapang.

Bukan karena masalah menghilang, tetapi karena ia memilih untuk tidak memperumitnya dengan lisan yang tak dijaga.

Menjelang siang, ia keluar membeli air mineral. Dalam perjalanan pulang ke kantor, ia melihat seorang anak kecil terjatuh dari sepeda. Ibunya segera menghampiri, bukan dengan suara keras, tetapi dengan pelukan dan kata-kata lembut. Anak itu perlahan berhenti menangis. Aksa memperhatikan adegan itu lama. Sungguh, ada kekuatan besar dalam ucapan yang baik, kekuatan yang tidak perlu berteriak untuk didengar.

Sore hari, angin semilir berembus di antara gedung-gedung tinggi. Aksa berjalan pulang dengan langkah yang lebih ringan daripada pagi tadi. Hari itu ia tidak melakukan sesuatu yang luar biasa. Ia hanya menahan diri di beberapa momen kecil di saat-saat yang biasanya ia biarkan lisannya berlari mendahului akalnya.

Namun dari momen kecil itu, ia menemukan sesuatu yang besar: ketenangan.

Ia menyadari, menjaga lisan bukanlah perkara menahan mulut semata. Ia adalah latihan hati, latihan kesadaran, latihan untuk mengenali apa yang benar-benar perlu diucapkan dan apa yang sebaiknya dibiarkan hilang bersama angin.

Di tengah hiruk pikuk kehidupan, manusia memang tidak selalu mampu mengontrol apa yang terjadi padanya. Tetapi ia selalu punya pilihan untuk mengontrol apa yang keluar dari lisannya.

Dan dari situlah kedamaian sering kali bermula.

Penulis: Riri Yunita Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam

Loading

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *