
LPM Al-Itqan – Di zaman sekarang, banyak orang merasa harus selalu terlihat sempurna di mata orang lain entah lewat media sosial, penampilan, atau pencapaian. Padahal, kebahagiaan yang dibangun dari penilaian manusia itu sifatnya rapuh. Hari ini dipuji, besok bisa dihina. Karena itu, Islam mengajarkan bahwa sumber ketenangan bukanlah validasi manusia, tetapi kedekatan kita dengan Allah. Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan bahwa “Sesungguhnya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang” (QS. Ar-Ra’d: 28).
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ
Artinya: (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah bahwa dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram (Q.S. Ar-Rad ayat: 28).
Maksud dari ayat diatas adalah, standar kebahagiaan tertinggi justru datang dari hubungan kita dengan sang pencipta, bukan dari komentar manusia. Ketika kita terlalu bergantung pada penilaian orang lain, hidup kita mudah dikendalikan. Sedikit kritik bisa membuat diri goyah, dan sedikit pujian bisa membuat kita lupa diri. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa salah satu tanda kuatnya keimanan adalah ketika seseorang tidak mencari-cari perhatian manusia. Beliau bersabda, “Barang siapa mencari ridha Allah meskipun manusia tidak ridha, maka Allah akan meridhainya dan membuat manusia pun ridha kepadanya.” (HR. Ibn Hibban). Hadis ini menegaskan bahwa validasi manusia itu mengikuti, bukan sesuatu yang harus dikejar.
Belajar untuk tidak bergantung pada penilaian manusia bukan berarti kita menjadi anti sosial atau menolak kritik. Justru, kita tetap terbuka terhadap masukan, tapi tidak menjadikan pendapat orang sebagai tolak ukur nilai diri. Kita belajar menerima bahwa manusia pasti memiliki perspektif berbeda, dan itu wajar. Fokus utama kita adalah memperbaiki diri karena Allah, bukan karena ingin dianggap hebat. Ini akan membuat langkah kita lebih ringan dan hati lebih lapang.
Islam juga mengajarkan bahwa setiap manusia punya nilai dan kehormatan yang tidak ditentukan oleh komentar manusia, tetapi oleh ketakwaan. Allah berfirman, “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Maidah ayat 35).
يٰۤاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابۡتَغُوۡۤا اِلَيۡهِ الۡوَسِيۡلَةَ وَجَاهِدُوۡا فِىۡ سَبِيۡلِهٖ لَعَلَّـكُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya, agar kamu beruntung (Q.S. Al-Maidah:35)
Ayat ini mengingatkan bahwa ukuran berharga atau tidaknya seseorang bukanlah dari jumlah pujian, likes, atau pengakuan, tetapi dari kualitas ibadah, akhlak, dan keikhlasan, dan bertakwa kepada Allah.
Selain itu, Rasulullah SAW juga memberi teladan terbaik bahwa beliau tidak pernah menjalani hidup untuk membuktikan diri kepada manusia. Beliau menjalani amanah dakwah dengan penuh kesabaran, sekalipun dihina, ditolak, dan dicaci. Ini menunjukkan bahwa ketika tujuan kita jelas, penilaian manusia tidak lagi menjadi penghalang. Justru, yang terpenting adalah bagaimana Allah melihat usaha kita. Hidup akan menjadi lebih ringan jika niat kita lurus.
Pada akhirnya, bahagia tanpa validasi adalah tentang membangun fondasi diri yang kuat, yang tidak mudah runtuh oleh komentar orang. Ketika hati terikat kepada Allah, kita tidak lagi sibuk mencari pengakuan manusia, tetapi mencari ketenangan yang sebenarnya. Inilah kebebasan sejati: hidup dengan ketulusan, bekerja dengan keikhlasan, dan melangkah dengan keyakinan bahwa ridha Allah jauh lebih berharga daripada seribu pujian manusia. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang hatinya kokoh dan hanya berharap kepada-Nya. Aamiin.
Penulis: Nazwa Amelia Daulay Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam
![]()
