
LPM Al-Itqan – Rintik hujan di atap terdengar merdu dikala pagi yang nampak malu menampakkan dirinya dikala kesunyian, udara dingin menyelimuti, membuat diri terasa malas menjalani hari , rasanya ingin berlama lama di dalam ranjang tidur berpeluk selimut nan hangat. Apa gerangan matahari? Tampaknya sedikit enggan menyinari pagi ini.
Ambil nafas panjang dan rasakan.. Alhamdulillah, masih di beri kesempatan untuk menjalani hari ini. Sederhana, tapi memang sangat patut di syukuri. Kadang kita lupa, bahwa napas yang barusan kita tarik adalah nikmat. Bahwa langkah kecil menuju pintu rumah adalah karunia. Bahwa tangan yang masih bisa menggenggam dunia adalah anugerah.
Kita lupa bahwa setiap pagi yang masih mau menyapa kita adalah izin Allah untuk memulai lagi. Bahwa setiap napas yang keluar masuk dengan teratur adalah tanda bahwa Allah masih memberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Bahwa setiap langkah, betapapun berat, adalah bukti bahwa kita belum Allah biarkan jatuh tanpa pertolongan.
Bersyukur bukan tentang hidup yang sempurna, tetapi tentang hati yang mampu melihat kebaikan dibalik ketidaksempurnaan. Kadang, Allah tidak menambah rezeki kita, tetapi Ia menambah rasa cukup di dalam hati, dan rasa cukup itu jauh lebih berharga daripada harta yang melimpah. Itulah kenapa orang yang bersyukur disebut sebagai orang kaya hati, meskipun mungkin tidak kaya harta.
Bersyukur bukan sekadar kata yang keluar dari bibir, ia adalah bisikan lembut dari hati yang mengerti betapa segala yang kita punya hanyalah titipan dari Ilahi. Ada saat-saat tertentu dalam hidup ketika kita terlalu sibuk mengejar apa yang belum kita miliki, hingga lupa memeluk erat apa yang sudah lama ada dalam genggaman.
Ada banyak nikmat yang tidak berbunyi,
Tidak bersinar,
Tidak menuntut disadari.
Nikmat itu diam,
Tapi nyata
Hati yang masih mampu berharap,
Jiwa yang masih mau belajar,
Tangan yang masih bisa memberi,
Dan langkah yang masih kuat melanjutkan hidup.
Kadang Allah tidak memberi apa yang kita inginkan, Karena Ia ingin kita belajar mensyukuri apa yang kita butuhkan. Kadang Allah membiarkan kita menangis,
Agar hati kita cukup lembut untuk melihat betapa besar kasih-Nya.
Kadang Allah membuat kita kehilangan,
Agar kita tahu bahwa tidak ada yang benar-benar milik kita, Selain kesempatan untuk mendekat kepada-Nya.
Betapa sering kita lupa bahwa setiap kehilangan pun menyimpan alasan untuk bersyukur, karena dalam kehilangan Allah sedang mengosongkan ruang untuk memberikan sesuatu yang lebih baik. Betapa sering kita mengira hidup ini keras, padahal kita hanya belum melihat betapa lembutnya cara Allah menjaga.
Bersyukurlah…
Karena di balik luka yang sulit dijelaskan, ada hikmah yang sedang tumbuh. Karena di balik letihnya langkah, ada pahala yang dicatat tanpa henti. Karena di balik setiap doa yang belum dijawab, ada jawaban yang sedang Allah siapkan dengan sebaik-baiknya.
Syukur adalah jembatan menuju ketenangan. Dan siapa yang mampu bersyukur, akan merasakan betapa Allah tak pernah menjauh sedetik pun dari hatinya.
Penulis: Latifa Arwanda Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam
![]()
