Bencana Alam dan Cermin Perilaku Manusia: Saatnya Berhenti Menyalahkan Alam

LPM Al-Itqan – Dalam setiap peristiwa bencana alam, respon yang paling sering muncul dari masyarakat adalah menyalahkan alam sebagai sumber kerugian. Alam dianggap “kejam” dan “tidak bersahabat” ketika menunjukkan kekuatannya. Namun pendekatan ini bersifat simplistik dan mengabaikan keterlibatan manusia dalam memperburuk kerentanan ekologis.

Aktivitas seperti penebangan hutan secara tidak terkendali, pembukaan lahan tanpa perencanaan, pembakaran hutan, dan eksploitasi sumber daya alam untuk kepentingan pribadi telah menyebabkan degradasi lingkungan yang serius. Kerusakan ini memperbesar risiko bencana, baik dalam bentuk banjir, tanah longsor, kekeringan, maupun kebakaran hutan. Dalam konteks ini, pertanyaan penting muncul, layakkah alam menjadi satu-satunya pihak yang disalahkan ketika bencana terjadi?

Dari sudut pandang ekologis dan etis, tidak ada entitas yang bisa sepenuhnya disalahkan. Bencana alam sering merupakan hasil interaksi kompleks antara dinamika alamiah dan perilaku manusia. Oleh karena itu, ketika bencana melanda, seharusnya hal tersebut menjadi momentum refleksi kolektif mengenai bagaimana manusia telah memperlakukan lingkungan.

Kontradiksi muncul ketika manusia menikmati manfaat dari alam, tetapi menolak menerima konsekuensi dari eksploitasi yang dilakukan. Sikap seperti ini menunjukkan ketidakseimbangan relasi antara manusia dan lingkungan.

Contoh kecilnya saja ketika kita menyalahkan alam yaitu ketika terjadi longsor kita mengumpat “yaa longsor lagi,” ketika banjir kita mengatakan “yaaa banjir.” Tapi tidak melihat ke belakang penyebab longsor banjir dan bencana yang lainnya. Ketika hutan masih lebat walaupun curah hujan sangat tinggi tingkat terjadinya longsor itu sangatlah minim seperti yang dipelajari ketika di pelajaran IPA ketika SD.

Upaya pencegahan bencana tidak dapat hanya mengandalkan respon pasca kejadian. Diperlukan komitmen bersama untuk melestarikan lingkungan, menerapkan kebijakan pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan, dan menghentikan perilaku eksploitasi yang hanya menguntungkan individu atau kelompok tertentu. Tanpa perubahan paradigma ini, bencana akan terus menjadi bagian dari siklus yang kita ciptakan sendiri.

To be continued…..

Penulis: Ahmad Zakiyul

Loading

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *