Di Antara Doa dan Takdir

LPM Al-Itqan – Pertanyaan tentang bagaimana doa berhubungan dengan takdir selalu menjadi perbincangan yang tidak pernah selesai dalam tradisi keagamaan maupun filsafat. Banyak orang bertanya: Jika segala sesuatu sudah ditakdirkan, untuk apa kita berdoa? Sebaliknya, jika doa dapat mengubah keadaan, apakah itu berarti takdir tidak mutlak? Pertentangan ini tampaknya sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan kedalaman makna tentang bagaimana manusia memahami perannya di hadapan Tuhan.

Dalam pandangan saya, doa bukanlah alat untuk “melawan” takdir, tetapi sebuah cara untuk berjumpa dengan takdir dalam bentuk yang paling baik. Takdir bukan suatu garis keras yang berdiri tanpa celah, ia lebih mirip rangkaian kemungkinan yang telah ditetapkan Tuhan, sementara doa adalah ikhtiar batin yang membuka pintu-pintu kemungkinan itu. Dengan kata lain, takdir memberi batas dan struktur bagi hidup manusia, tetapi doa memberikan arah dan kualitas bagi perjalanan itu. Melalui doa, manusia menghubungkan dirinya dengan sumber kekuatan yang lebih tinggi, sekaligus memurnikan niat, pikiran, dan tindakannya.

Di sisi lain, doa tidak hanya berfungsi sebagai permintaan, tetapi juga sebagai proses penguatan diri. Ketika seseorang berdoa, ia sering kali menemukan ketenangan, kejernihan hati, serta keberanian untuk menghadapi kenyataan apa pun yang telah digariskan Tuhan. Jika takdir adalah sesuatu yang mungkin tidak selalu dapat kita kendalikan, doa membuat kita tidak merasa sendirian ketika menghadapinya. Inilah harmoni antara keduanya: doa membentuk kesiapan mental dan spiritual untuk menerima takdir, sekaligus menjadi ruang di mana manusia berharap agar takdir terbaik diberikan kepadanya.

Dengan demikian, doa dan takdir bukan dua konsep yang saling berlawanan, melainkan dua sisi dari proses spiritual manusia. Tuhan memberikan takdir sebagai ketetapan-Nya, tetapi Ia juga memberi doa sebagai jalan untuk meminta, memohon, dan bahkan memperbaiki keadaan. Bagi saya, justru di situlah letak kasih Tuhan: kita tidak dibatasi oleh takdir yang kaku, sebab ada ruang untuk berserah, berharap, dan memohon kebaikan melalui doa. Pada akhirnya, doa adalah bentuk ikhtiar, takdir adalah bentuk ketetapan dan keduanya berjalan berdampingan untuk membimbing manusia menuju kehidupan yang lebih bermakna.

Penulis: Revalina Deska Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam

Loading

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *