Menjaga Lisan di Era Digital: Merawat Akhlak di Dunia Tanpa Batas

LPM Al-Itqan – Di era ketika informasi dapat menyebar dalam hitungan detik, lisan manusia tidak lagi terbatas pada suara. Jemari yang mengetik di layar ponsel telah menjadi perpanjangan lisan yang ikut mencerminkan akhlak pemiliknya. Satu komentar dapat mengobarkan konflik, satu unggahan dapat menyinggung banyak hati, dan satu kalimat bisa menghapus nilai kebaikan yang lama dibangun. Padahal Islam telah lama memperingatkan tentang pentingnya menjaga lisan. Dalam Al-Qur’an surat Qaf ayat 18, Allah SWT berfirman:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di dekatnya ada malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Q.S. Qaf: 18)

Ayat ini tidak hanya menegur lisan yang berbicara, tetapi juga jari yang menulis. Jejak digital kita tidak lenyap begitu saja. Ia tersimpan, dibaca banyak orang, dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Dengan kesadaran ini, dunia digital bukan lagi ladang bebas berekspresi tanpa batas, tetapi ruang tanggung jawab untuk menghadirkan akhlak dan kedewasaan.

Di tengah derasnya komentar panas, gosip online, dan berita yang belum tentu benar, seorang muslim dituntut untuk menjadi penyejuk. Verifikasi sebelum membagikan, menahan diri sebelum menulis, dan menggunakan kata-kata yang menyejukkan adalah adab yang harus dijaga. Allah SWT juga mengingatkan dalam surat Al-Hujurat ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik membawa berita, maka telitilah kebenarannya.”

Ayat ini menjadi pedoman penting bagi kita yang hidup di dunia yang penuh hoaks dan sensasi. Jangan sampai jari kita menjadi sebab tersebarnya fitnah, dan jangan sampai lisan digital kita melukai hati orang lain hanya demi kesenangan sesaat.

Ikhlas juga diuji pada era ketika semua hal mudah dipamerkan. Banyak yang berbuat baik hanya demi validasi, bukan demi ridho Allah SWT. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi sesama, bukan yang paling banyak pamer kebaikan di media sosial. Maka, menjaga lisan berarti juga menjaga niat: apakah kita berbicara untuk menebar manfaat atau sekadar mencari perhatian?

Kisah Luqman Al-Hakim mengajarkan betapa berharganya kata-kata. Suatu ketika, ia diminta untuk membawa bagian terbaik dari seekor hewan, dan ia membawa hati dan lidah. Namun ketika diminta membawa bagian terburuknya, ia juga membawa hati dan lidah. Luqman berkata bahwa keduanya dapat menjadi yang terbaik jika digunakan dengan benar, dan menjadi yang terburuk jika digunakan tanpa kendali.

Pelajaran ini sangat relevan untuk dunia digital hari ini. Media sosial bisa menjadi ladang pahala jika digunakan untuk menyebarkan ilmu, nasihat, dan kebaikan. Namun bisa juga menjadi sumber dosa jika digunakan untuk menghina, menggunjing, atau memecah belah.

Seorang muslim dituntut untuk semakin berhati-hati, sebab batas antara manfaat dan mudarat kini begitu tipis. Dengan menjaga lisan—baik yang terucap maupun yang tertulis—kita sedang menjaga kehormatan diri, menebar kedamaian, dan merawat akhlak di dunia tanpa batas ini.

Penulis: Halimah Tusahdiah Napitupulu Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam

Loading

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *