
LPM Al-Itqan – Hujan turun deras di luar jendela rumah kecil itu. Alya, gadis berseragam putih abu-abu, duduk memeluk lutut di pojok kamarnya. Matanya bengkak, pikirannya kusut, dan hatinya seperti tenggelam dalam gelap. Nilai ujian yang anjlok, tekanan dari orang tua, dan ejekan teman-teman membuatnya merasa hidup tak punya arah. Malam itu, untuk pertama kalinya, ia merasa lelah dengan semuanya. Saat sedang hanyut dalam kesedihan, suara pintu diketuk lembut. “Alya… boleh ibu masuk?” Alya cepat-cepat menyeka air mata. “Masuk saja, Bu.” Ibunya duduk di sampingnya. “Ibu lihat kamu makin sering murung. Ada yang ingin kamu ceritakan?” Alya menggeleng cepat. “Tak ada yang bisa berubah, Bu. Takdir sudah begini. Aku memang gagal.” Ibunya tersenyum, menatapnya dengan kelembutan yang membuat dinding hatinya retak. “Alya sayang takdir memang Allah yang menulis. Tapi apakah kamu lupa? Di sepertiga malam, Allah memberi kesempatan untuk meminta apa pun. Bahkan untuk mengubah apa yang kita kira tak bisa diubah.” Alya hanya diam. Kata-kata itu menusuk dalam, tetapi juga memberi sedikit cahaya.
Malam berikutnya, ketika seluruh rumah terlelap, Alya terbangun tanpa sengaja. Jam menunjukkan pukul 03.12. Ia teringat ucapan ibunya. Dengan ragu, ia bangkit, berwudhu, lalu berdiri di atas sajadah. Tubuhnya gemetar. Baru kali ini ia shalat tahajud. Setelah salam, ia sujud lama sekali, air matanya jatuh membasahi sajadah. “Ya Allah… Aku tidak kuat. Tapi aku ingin kuat. Aku tidak yakin, tapi aku ingin yakin. Jika pintu-Mu masih terbuka, izinkan aku mendekat,” bisiknya. Malam itu bukan keajaiban yang langsung mengubah hidupnya. Namun ada sesuatu di dadanya yang terasa berbeda—ringan, seolah ada yang mengangkat beban yang selama ini ia pikul sendiri. Dan sejak itu, setiap sepertiga malam, Alya kembali bersimpuh. Kadang dengan air mata, kadang dengan senyum kecil yang ia sendiri tak mengerti dari mana datangnya. Perlahan, Alya berubah. Ia mulai belajar lebih teratur, mengurangi waktu bermain ponsel, dan mendekati teman-teman yang baik. Nilainya memang tidak langsung sempurna, tapi jauh lebih baik. Ia mulai percaya bahwa ia bisa berusaha lebih keras. Suatu hari, usai shalat magrib di masjid sekolah, Ustazah Ratna memanggilnya. “Alya, ustazah lihat kamu banyak berubah. Apa rahasianya?” Alya tersenyum samar. “Saya hanya mencoba bangun di sepertiga malam, Ustazah. Ternyata rasanya menenangkan.” Ustazah mengangguk. “Karena sepertiga malam bukan hanya waktu untuk berdoa. Itu waktu untuk menantang diri sendiri dan menantang takdir dengan ikhtiar.” Alya terkejut. Kata-kata itu menguatkannya.
Beberapa bulan kemudian, Alya berdiri di depan papan pengumuman kelulusan. Namanya tertera sebagai salah satu dari tiga siswa dengan nilai tertinggi. Tangisnya pecah kali ini bukan karena putus asa, tapi karena syukur yang tak terlukiskan. Ibunya yang berdiri di sampingnya menggenggam tangan Alya. “Kamu sudah membuktikan satu hal, Nak. Takdir boleh tertulis, tapi doa dan usaha di sepertiga malam bisa mengetuk pintu-pintu yang tak pernah kita sangka.” Alya mengangguk, matanya masih berkaca-kaca.
Dalam hati ia tahu, sejak malam pertama ia bersujud, ia tidak sedang menantang Tuhan ia sedang menantang dirinya sendiri. Dan ternyata, itulah kunci yang mengubah segalanya.
Penulis: Mohammad Dzaki Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam
![]()
