
LPM Al-Itqan – Lisan adalah anugerah yang sangat berharga. Melalui lisan, manusia bisa menyampaikan kebaikan, memberi semangat, ataupun menyembuhkan hati yang terluka. Namun di saat yang sama, dari lisan pula banyak masalah muncul perselisihan, permusuhan, dan luka batin yang kadang sulit disembuhkan. Di zaman digital, ketika kata-kata tidak hanya keluar dari mulut, tetapi juga dari jari-jemari kita di media sosial, menjaga lisan menjadi lebih penting dari sebelumnya.
Islam sejak awal telah menekankan betapa besar tanggung jawab manusia terhadap ucapannya. Allah berfirman dalam Qs. Qaf ayat 18:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ ١٨
Yang Artinya: “Tidak ada suatu kata pun yang terucap, melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)”.
Rasulullah juga bersabda agar seseorang berkata baik atau memilih diam. Bahkan, beliau mengingatkan bahwa banyak manusia terseret ke dalam kebinasaan karena lisan mereka sendiri. Ajaran ini menunjukkan bahwa kualitas iman seseorang bisa tercermin dari bagaimana ia menggunakan lisannya.
Menariknya, apa yang diajarkan oleh agama sejalan dengan temuan riset modern. Penelitian tentang perilaku di media sosial menunjukkan bahwa ucapan negatif seperti hinaan, komentar toxic, atau balasan sinis bisa menimbulkan berbagai reaksi emosional. Banyak orang yang menjadi korban ucapan toxic akan menghindar, merasa tertekan, atau justru membalas dengan ucapan toxic lainnya. Artinya, satu kata buruk bisa memicu rangkaian keburukan berikutnya.
Dalam studi yang lebih luas, para peneliti menemukan adanya peningkatan “fear speech”, yaitu jenis ucapan yang tidak selalu kasar, tetapi menebarkan rasa takut dan prasangka terhadap kelompok tertentu. Jenis ucapan seperti ini dianggap lebih berbahaya karena sifatnya yang halus, namun efeknya mampu memecah belah masyarakat dan menciptakan ketegangan sosial.
Dampak ucapan juga dirasakan kuat oleh generasi muda. Pada siswa SMA ditemukan bahwa mereka sangat sering terpapar dan terlibat dalam hate speech di media sosial. Ini berkaitan dengan penurunan harga diri, prestasi akademik, dan meningkatnya stres atau kecemasan. Dalam psikologi, komunikasi menyakitkan seperti sarkasme, hinaan, atau kritik yang merendahkan dianggap sebagai salah satu bentuk kekerasan emosional yang mampu meninggalkan luka jangka panjang.
Fenomena gosip pun tidak lepas dari pembahasan ini. Beberapa penelitian memang menunjukkan bahwa gosip, dalam kadar tertentu, bisa menguatkan hubungan sosial. Namun ketika gosip mengarah pada penghakiman atau memperbanyak energi negatif, dampaknya sangat merusak. Islam mengajarkan bahwa membicarakan aib orang lain sama halnya memakan bangkai saudaranya sendiri, gambaran yang sangat keras untuk menunjukkan betapa tercelanya perbuatan tersebut.
Ketika kita menyandingkan ajaran agama dengan berbagai riset modern, tampak jelas bahwa menjaga lisan bukan sekadar kewajiban spiritual, tetapi juga kebutuhan psikologis dan sosial. Ucapan yang terjaga melindungi kita dari konflik, mengurangi stres, memperbaiki hubungan, dan menciptakan lingkungan sosial yang lebih sehat. Di era digital, menjaga lisan berarti juga berhati-hati dalam setiap tulisan: komentar, status, chat, atau opini yang kita bagikan.
Mengendalikan lisan adalah latihan yang membutuhkan kesadaran diri. Sebelum berbicara, kita bisa bertanya dalam hati: apakah ini benar? Apakah bermanfaat? Apakah perlu? Jika tidak memenuhi ketiganya, diam adalah pilihan yang lebih mulia. Islam mengajarkan bahwa diam bisa menjadi ibadah ketika mencegah kita dari dosa. Sementara itu, riset psikologi komunikasi pun menunjukkan bahwa jeda sejenak sebelum bicara dapat menurunkan peluang terjadinya komunikasi menyakitkan.
Pada akhirnya, menjaga lisan adalah bentuk investasi. Investasi untuk kesehatan hati, ketenangan jiwa, dan keharmonisan hidup. Satu kalimat baik bisa menjadi sedekah, menenangkan orang lain, bahkan menjadi sumber pahala yang terus mengalir. Sementara satu kalimat buruk bisa menghancurkan hubungan, menyakiti hati, dan meninggalkan bekas yang sulit dilupakan.
Semoga Allah memberi kita kemampuan untuk menjaga setiap kata yang keluar, baik dari lisan maupun tulisan, dan menjadikannya sarana menyebarkan kebaikan. Aamiin.
Penulis: Sri Wahyuni Wulandari Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam
![]()
