Raja Mabar yang Bertaubat

LPM Al-Itqan – Pada suatu hari ada seorang pria yang bernama Hendra. Dia adalah salah satu raja dalam bermain game yang bernama MOBILE LEGENDS yang nama nya sudah banyak dikenal orang di kampung tempat dia tinggal, di kalangan teman-temanya dia mendapatkan suatu julukan yang sangat terkenal: Raja Mabar. Setiap hari ia menghabiskan waktu untuk bermain Mobile Legends yang mana jari yang sibuk mengendalikan permainan, dan matanya terpaku pada Hanphone yang ia pegang.

Rank akun? Tinggi.

Skill? Tak perlu ditanyakan lagi.

Ibadah? Sudah pasti dia lupakan akibat ulah game tersebut.

Pada saat tiba waktu sholat Hendra hanya menjawab “Nanti satu game lagi. Ini tinggal dikit lagi untuk menuju Mythical Imortal.”pada saat itu semua teman-teman Hendra menghela nafas dan beranjak pergi, sementara Hendra terus bermain meninggalkan pangila sholat. Namun pada saat di tengah permainan, tiba-tiba jaringan hilang Hendra pun mulai kesal membanting hanphone kemana-mana,Hendrapun mulai kesal atas hilangan jaringan, hendra pun berkata “Ya Allah….kenapa pas mau menang malah jaringan ini hilang.” Pada saat keadaan ini Hendra baru ingat dengan Tuhannya ,Hendra pun menuju kerumah dengan kesal akibat jaringan hilang tersebut pad saat bermain game.

Sesampainya di rumah, Ibu Hendra yang sudah menunggu anaknya di ruang tamu berkata dengan lembut, “Hendra…. Ibu rindu melihat kamu Shalat lagi di rumah maupun di mesjid. Ibu rindu melihat kamu ngaji. Kamu dulu anak yang rajin, nak sekarang kamu kenapa seperti ini, kamu tidak seperti yang ibu lihat biasanya anak,kpan kamu bisa berubah kayak seperti dulu anak.” Kata-kata yang di sampaikan oleh ibu menampar hati Hendra lebih keras dari kekalahan dari game yang di mainkan oleh Hendra. Hendra menunduk,merasa malu ats apa yang di sampaikan oleh ibu krpadanya.

Hari demi hari, Hendra mulai mencoba mengurangi waktu bermain. Ia mulai kembali ke musala kecil yang ada di dekat rumah, duduk di saf belakang dengan malu-malu. Pada waktu malam, setelah shalat Isya, seorang ustadz yang memimpin kajian lantas mengajak para remaja yang shalat di musala itu berbicara. Selesai pak ustadz berbicara dengan remaja, pak ustadz mengizinkan remja pulang kerumah masing-masing sambil berkata “hati-hati dijalan ya ank-anak.” Hanya tinggal Hendra yang tak pergi dari musala itu.

Ustadz pun menghampiri Hendra ‘kamu kenapa tidak pulang Hendra.” Hendra pun mulai berbicara kepada pak ustadz “Ustadz… saya mau ngomong. Saya kayaknya…kebablasan main game. Saya jauh dari Allah, saya sering nyakitin hati orang tua. Saya marah-marah cuman kalah dan ajringan hilang. Saya malu, ustadz….saya mau berubah lagi kayak masa kecil saya ustadz yang tak pernah meninggalkan shalat lagi ustadz, saya mau bertaubat.” Ustadz malik tersenyum lembut, menepuk bahunyanya “Hendra,pintu taubat selalu terbuka. Yang penting kamu sadar dan mau berubah. Tidak ada manusia yang sempurna. Yang hebat adalah yang mau kembali ke tuhannya.” Hendra menunduk matanya mulai berlinang “apa yang harus saya lakukan, ustadz?” yang harus kamu lakukan itu “pertama,perbaiki shalat kamu. Shalat itu adalah jangkar hati. Kedua, minta maaf kepada orang tua. Ketiga, atur waktu untuk bermain game. Game itu hiburan bukan hidup. Keempat, isi waktumu dengan hal yang bermafaat.”

Hendra pun mengangguk dan berkali-kali, tubuhnya bergetar hingga menanggis. Sesampai di rumah Hendra memeluk ibunya hingga menangis dan sambil meminta maaf apa yang telah dilakukanya selama ini, Ibu pun ikut menagis dan memeluk Hendra dengan erat, smbil berkata “kalau kamu berubah, Ibu pasti bangga kepada anak ibu.”

Beberapa bualan berlalu, setelah Hendra meminta maaf kepada orang tua, reputasinya berubah, dari awalnya raja Mabar yang dulu dikenal  karena kehebantanya di dunia virtual, kini ia dikenal sebagai Raja Mabar yang Bertaubat. Seorang remaja yang bisa membuktikan bhwa hobi ibadah tidak bisa berjalan dengan seimbang.

Dan setiap kali azan berkumandang, Hendra meletakkan ponselnya, tersenyum, dan berkata dalam hati “Game dapat dimainkan kapan saja, Tapi panggilan Allah hanya sementara di dunia.”

Penulis: Rino Yuma Hendra Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam

Loading

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *