
LPM Al-Itqan – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang semakin cepat dan semakin melelahkan, manusia sering sekali lupa bahwa apa pun yang di kejar di dunia tidak ada yang akan bertahan ataupun abadi keberadaannya, semua hanya bersifat sementara. Kita hidup di zaman dimana dunia begitu menggoda banyak sekali ambisi duniawi yang membuat manusia terbuai dan tergoda dengan tawaran akan kebahagiaan dunia, hingga lupa tujuan akhir dari keberadaannya.
Setiap hari setiap kali matahari terbit di pagi hari kita akan menyusun list-list panjang yang harus kita kejar. Namun, terkadang kita sering melewatkan suatu fakta bahwa dunia yang kita kejar sedemikian rupa ini, tidak pernah benar-benar abadi. Allah SWT telah mengingatkan kita dalam Al-Qur’an Surah Al-an’am ayat 32 bahwa dunia yang kita tinggali ini hanyalah sebuah permainan yang mudah menipu dan akhirat adalah tempat kembali yang sesungguhnya.
Allah menggambarkan dunia sebagai la‘ibun wa lahwun permainan dan senda gurau.
Permainan adalah sesuatu yang dilakukan hanya untuk bersenang-senang, bukan untuk tujuan yang hakiki. Ia bisa membuat seseorang lupa waktu, lupa tugas, bahkan lupa pada hal yang lebih penting. Begitu pula dunia ia bisa melalaikan kita dari tujuan akhir, yaitu ridha Allah SWT.
Namun, manusia sering kali memperlakukan dunia ini seolah-olah itulah tujuan hidup yang utama. Kita mengejar materi, popularitas, validasi, dan kenyamanan seakan semuanya akan menemani kita sampai akhir. Padahal, saat ajal datang, semua itu tidak bisa dibawa bersama. Harta akan ditinggalkan, jabatan akan digantikan, pujian akan dilupakan, dan tubuh pun akan kembali menjadi tanah. Yang akan menyertai kita hanyalah amal dan ketakwaan yang selama ini mungkin sering kita abaikan.
Sungguh menyedihkan, melihat bagaimana manusia bisa begitu bersungguh-sungguh mengejar hal yang jelas-jelas sementara, namun begitu abai terhadap sesuatu yang abadi. Kita bersiap dengan sepenuh jiwa untuk ujian di kampus, mempersiapkan presentasi, menata masa depan kerja, tetapi jarang sekali mempersiapkan diri untuk perjalanan panjang menuju akhirat kelak. Keseriusan kita sering salah arah, kita serius pada dunia, tapi bermain-main dengan akhirat padahal yang seharusnya terjadi adalah kebalikannya.
Allah SWT juga menegaskan dalam Surah Al-an’am ayat 32 yang berbunyi “dan negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa.”
Mengapa demikian? Karena seperti yang kita ketahui kehidupan akhirat sama sekali tidak mengenal kematian, tidak ada penderitaan, tidak ada kesedihan. Semuanya kekal dan sempurna bagi orang yang beriman dan juga bertakwa.
Kita dapat belajar dari kisah para sahabat Nabi, salah satunya kita ambil dari Mush‘ab bin ‘Umair. Dahulu beliau hidup dalam kemewahan, dimanjakan keluarga, dan berada di puncak kehidupan sosial Makkah. Namun ketika hidayah mulai mengetuk pintu hatinya, beliau memahami bahwa semua kemewahan berlimpah yang beliau punya hanyalah bayangan yang akan hilang nantinya. Beliau memilih meninggalkan permainan dunia untuk sesuatu yang jauh lebih megah yaitu ridha Allah dan kehidupan akhirat.
Terkadang kita sebagai manusia sering kali lupa bahwa hidup bukan hanya soal bekerja, bersenang-senang, ataupun mengejar popularitas semata. Hidup adalah tentang bagaimana kita dapat menggunakan waktu dan nikmat yang diberikan oleh Allah SWT untuk beribadah, menebar kebaikan, dan menyiapkan bekal menuju kehidupan yang abadi.
Allah SWT tidak melarang manusia menikmati dunia. Dunia memang sudah semestinya kita jalani. Kita perlu bekerja, belajar, bermimpi, dan berusaha. Namun semua itu harus ditempatkan pada porsinya, Allah SWT ingin kita meletakkan dunia di tangan kita bukan di hati kita, jadikan dunia sebagai jalan, bukan tujuan. Dunia hanyalah sebuah alat dan akhirat adalah destinasi. Dunia adalah persinggahan dan akhirat adalah kampung halaman. Kita boleh bekerja, belajar, bercita-cita tinggi. Tetapi semuanya harus berada di bawah kendali iman dan takwa. Jadikan dunia sebagai ladang amal, bukan tempat tinggal abadi.
Jika dunia adalah permainan, maka kita harus pandai memainkan peran kita dengan benar. Seperti pemain yang cerdas, kita harus tahu kapan bermain dan kapan berhenti. Kita harus paham bahwa permainan ini punya aturan dan aturan itu adalah syariat Allah.
Sebab kemenangan sejati bukan ketika dunia memuji, tetapi ketika Allah meridhai.
Penulis: Nayla Shafwa Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam
![]()
