Skenario di Luar Kesadaran

Sumber foto: AI

LPM Al-Itqan – Ini berawal ketika Ayara berada di kelas 3 SMA. Saat itu, teman-temannya sibuk memikirkan akan berkuliah di mana, mengambil jurusan apa, hingga membayangkan kehidupan mereka di kampus nanti. Sedangkan Ayara? Jangankan memikirkan perkuliahan, kampus-kampus yang ia tahu pun bisa dihitung dengan jari.

Bukan karena ia tidak tahu bahwa ada banyak kampus di dunia ini. Tapi memang sejak awal, tak ada niatnya untuk mencari tahu lebih jauh. Banyak yang mencoba menyadarkannya. Mereka bilang, kampus adalah tempat untuk berkembang, mengenal banyak orang dari berbagai daerah. Ada pula yang mengejeknya karena ingin tetap tinggal di daerahnya saja.

Dengan sinis mereka berkata, “Tak mikirin kuliah? Nanti orang-orang udah sampai ke negeri yang jauh, kamu masih muter-muter di daerah ini terus.”

Ayara tidak pernah menanggapi ucapan-ucapan seperti itu. Baginya, keputusan ini adalah pilihannya sendiri, bukan karena paksaan, bukan karena tekanan siapa pun. Ia sadar, apa pun keputusan yang diambil, dialah yang akan bertanggung jawab. Ayara lebih memilih mengikuti kata hatinya daripada larut dalam gengsi dan tekanan dari luar.

Namun, semakin hari, semakin banyak yang bertanya, “Kamu nggak kuliah?”

“Mau ke kampus mana nanti?”

Karena sudah terlalu sering ditanya, akhirnya ia menjawab, “Kenapa sih mempertanyakan pilihan orang lain? Mau aku kuliah atau tidak, berpengaruhkah ke hidupmu?”

Mungkin jawabannya terdengar menyakitkan bagi mereka. Tapi siapa yang tidak lelah terus didesak? Itu hidupnya, bukan urusan mereka. Bukannya Ayara tidak ingin kuliah. Dalam hatinya, sebenarnya ada rasa penasaran, ada keinginan kecil untuk merasakannya juga.

Sebelum lulus, Ayara terpilih menjadi salah satu siswa eligible. Dengan bimbingan guru, ia mencoba mendaftar kuliah di salah satu universitas negeri melalui jalur SNMPTN. Ada dua jurusan yang bisa dipilihnya saat itu. Ia tahu apa minatnya, ia tahu hobinya, dan ia juga tahu kemampuannya. Akhirnya, Ayara memilih jurusan Tata Busana dan Tata Rias di kampus yang sama.

Meski itu jurusan yang disukai, anehnya ia terus-menerus berdoa agar tidak lulus. Bukan karena ia tidak suka , tapi karena ada rasa ragu dalam dirinya. Pikirannya terus plin-plan, dan benar saja, hasilnya: ia tidak lulus.

Setelah itu, ia juga mencoba mendaftar melalui jalur SPAN-PTKIN, dan ia memilih jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) di kampus yang berbeda. Tanpa disangka, ia lulus di sebuah kampus Islam di kota lain. Ada rasa haru saat itu, tapi juga muncul rasa takut. Ayara takut keluarga tidak mengizinkan. Ia takut tidak mampu mengikuti materi kuliah. Ia takut tidak bisa beradaptasi. Banyak sekali ketakutan yang menghantui.

Tapi ternyata, semua ketakutan itu justru menuntunnya ke titik ini,sebuah awal dari perjuangan baru yang dulu bahkan tidak pernah terlintas dalam pikirannya.

Entah apa rencana Tuhan untuknya. Entah kebahagiaan apa yang akan Dia berikan hingga membawanya ke titik ini. Titik yang banyak orang dambakan, yang banyak orang impikan, namun Allah memberikannya kesempatan.

Ayara percaya, apa yang ditakdirkan Tuhan tidak mungkin terjadi tanpa alasan. Pasti ada tujuannya. Ia memang belum tahu apa tujuan itu, dan ia juga tidak tahu apa yang menantinya di depan sana. Tapi ia sangat bersyukur.

Terima kasih, Ya Allah. Takdir-Mu begitu indah.

Banyak yang mengucapkan selamat, terutama sahabatnya. Katanya, “Nggak semua orang loh yang bisa kuliah, kamu termasuk yang beruntung.”

Tapi dia juga sering meledek Ayara, “Katanya nggak mau kuliah…”

Ayara hanya tersenyum mendengarnya, lalu berkata, “Takdir siapa yang tahu? Aku hanya menyampaikan keinginanku. Tapi takdir Tuhan? Itu urusan lain.”

Ya, begitulah hidup. Tak ada yang tahu bagaimana Tuhan mengatur jalan kita. Takdir Tuhan memang jauh lebih indah dari keinginan kita. Tidak semua keinginan harus berujung pada keputusan.

Penulis: Mutiara Kasih Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam

Loading

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *