Kematian

LPM Al-Itqan – Kesadaran tentang kematian sebagai perpisahan ruh dari jasad bukan hanya bagian dari keyakinan religius, tetapi juga suatu refleksi eksistensial yang menempatkan manusia pada posisi untuk menilai kembali makna hidupnya. Dalam islam, kematian bukan akhir, melainkan pintu menuju kehidupan yang lebih kekal, sebagaimana ditegaskan dalam surah Al-Ankabut ayat 57. Pandangan ini sejalan dengan teori eskatologi islam, yaitu kajian tentang fase-fase kehidupan setelah mati. Sukron abdilah dalam artikel “Eskatologi Kematian dan Kemenjadian Manusia” menjelaskan bahwa kematian merupakan fase transisi yang mengantarkan manusia menuju alam akhirat, di mana amal perbuatan menjadi satu-satunya bekal yang di bawa. Karena itu, pemahaman bahwa hidup di dunia bersifat sementara membuat manusia seharusnya menjalani kehidupan layaknya seorang perantau, yang suatu saat akan kembali membawa hasil dari seluruh usahanya selama di tanah rantau, sebuah analogi yang tepat untuk menggambarkan hubungan antar dunia akhirat.

Konsep pemisahan ruh dan tubuh yang kamu paparkan sejalan dengan pemikiran teologi islam klasik. Peneliatan terhadap naskah Sakaratul Maut karya Syeikh Zainal Abidin menjelaskan bahwa kematian terjadi ketika ruh mulai terlepas dari jasad, sementara filsuf Islam seperti Ibn Sina melalui konsep “floating man” menegaskan bahwa ruh memiliki eksistensi terpisah dari tubuh fisik. Dengan demikian, sakaratul maut yang digambarkan sangat menyakitkan bukan hanya gambaran tekstual, tetapi juga pengalaman metafisik yang diakui dalam literatul klasik. Imam Suyuti bahkan menggambarkan rasa sakitnya seperti tiga ratus pukulan pedang, gambaran yang diulas pula dalam kajian Syarhus Shudur. Keterangan-keterangan ini menekankan bahwa kematian adalah pengalaman yang menggrtarkan, sehingga kesadaran akan sakaratul maut seharusnya menumbuhkan rasa takut (khauf) dan harapan (raja’) secara simbang. Hal ini diperkuat oleh penelitian terhadap teks-teks kematian yang menunjukakan bahwa rasa takut terhadap fase ini mendorong manusia untuk lebih bertaqwa dan memperbaiki amal ibadah.

Tidak hanya sari sisi teologis, dimensi sosial kematian yang juga menarik untuk dikaji. Abdul karim dalam studinya tentang ritual kematian masyarakat Jawa menjelaskan bahwa kematian tidak hanya dipahami secara spritual, tapi juga melalui tradisi dan budaya lokal seperti tahlilan. Tradisi ini menunjukakan akulturasi antara ajaran islam dan budaya Nusantara. Namun, kajian sosiologis hukum islam oleh Iskandar, Galih, dan Saebani menunjukkan adanya perdebatan mengenai batasan antara ajara murni islam dan ritual budaya. Meskipun demikian, tradisi-tradisi tersebut tetap berberperan memperkuat solidaritas sosial sekaligus menjadi bentuk doa dan penghormatan bagi yang wafat.

Hidup adalah anugrah yang hanya datang sekali, dan pada akhirnya akan berahhir di titik yang sudah allah tetapkan untuk setiap makhluk-Nya. Secara pribadi, saya melihat bahwa kematian bukan sekedar akhir dari kehidupan , tetapi sebuah pengingat bahwa hidup ini adalah perjalanan sementara yang harus dijalalini dengan penuh kesadaran. Kita sering kali lupa bahwa dunia hanyalah tempat singgah, sementara amal perbuatan kita adalah bekal yang akan kita abawa pulang. Karena itu, hidup lebih bermakna ketika kita menjalankannya dengan dengan niat yang tulus, langkah yang membawa kebaiakan, dan hati yang selalu berusaha mendekat kepada Allah. Pada akhirnya, kematian justru mengajarkan bahwa setiap hari yang kita miliki adalah kesempatan untuk memperbaiki diri, bukan untuk menjadi sempurna, tetapi untuk menjadi lebih baik dari hari sebelumnya. Menurut saya makna hidup tidak diukur dari lamanya usia, tetapi dari seberapa dalam kita memanfaatkan waktu itu untuk melakukan kebaikan.

Kematian juga mengajarkan kita bahwa hidup adalah perjalanan yang membuat kita bertumbuh. Kadang kita bahagia, kadang kita terluka, dan kadang kita merasakan pedihnya diuji oleh hal-hal yang tak pernah kita duga. Namun dari setiap rasa sakit itu, untuk menjadi lebih kuat, dan untuk menyadari bahwa kita hidup bukan tanpa tujuan. Justru karena hidup lebih singkat, kita diajak untuk menata hati, memperbaiki ibadah, dan menyiapkan diri agar kembali dalam keadaan terbaik ketika ajal tiba. Dunia ini memang luas dan sering kali melelahkan, tetapi kita menjalani hidup dengan niat yang benar, penuh kesadaran, dan keikhlasan, pelan-pelan kita akan menemukan kedamaian dan jawaban yang selama ini kita cari. Pada akhirnya, kematian bukan untuk ditakuti, tetapi untuk direnungi, karena ia mengingatkan kita agar hidup dengan lebih bermakna sebelum waktu itu tiba.

Penulis: Mela Harianti Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam

Loading

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *